Ambient Condition dan Architectural Features

Published Maret 8, 2011 by fajarism20classic

Sudah menjadi hal yang umum dan biasa bahwa keadaan lingkungan mempengaruhi kinerja maupun mood pada seseorang. Dalam psikologi lingkungan hal tersebut dibagi dua: ambient condition dan architectural features, yaitu

 

A. Ambient Condition

Ambient condition menjelaskan tentang kualitas fisik pada suatu ruangan. Hal-hal tersebut berkaitan dengan beberapa hal, antara lain pencahayaan, kebisingan, polusi, temperature, warna, dan kualitas udara. Para tokoh seperti Rahardji (1987) dan Ancok (1988) membagi kualitas fisik menjadi tiga. Kebisingan, temperature dan kualitas udara.

Kebisingan

Sarwono membagi kebisingan ini menjadi tiga jenis: yaitu volume, perkiraan, dan pengendalian.

Volume: hal ini berkaitan dengan keras maupun lembutnya suara. Dikatakan bahwa suara yang semakin keras akan dirasakan mengganggu. Contohnya saja jika ada pembuatan jalan dengan mesin-mesin beratnya di dekat kantor atau sekolah. Pastinya hal tersebut akan mengganggu kinerja maupun konsentrasi karyawan atau siswa dengan suara-suara yang dihasilkan.

Sedangkan perkiraan berkaitan dnegan keteraturan sehingga individu dalam suatu ruangan dapat memprediksi kapan datangnya suara-suara tersebut. Hal ini memperkecil gangguan jika dibandingkan dengan suara yang tidak teratur dan sulit untuk diprediksi kedatangannya.

Pengendalian berkaitan dengan perkiraan seseorang. Seperti menyalakan music dengan suara yang keras. Bagi orang yang menyalakan jelas ini bukanlah gangguan. Namun bagi orang yang berada disekitarnya belum tentu hal tersebut tidaklah mengganggu.

Menurut Holahan (1982) jika kebisingan yang dibiarkan saja kita terima dalam intensitas tinggi dan dalam jangka waktu yang panjang ternyata dapat menjadi penyebab kehilangan pendengaran yang berarti.

Suhu dan Polusi Udara

Ini adalah hal berikutnya yang termasuk dalam gangguan kualitas fisik. Sudah merupakan hal kita ketahui bersama bahwa konsentrasi dapat menurun saat suhu di lingkungan kerja maupun lingkungan belajar meningkat. Sedangkan polusi udara selain mengganggu kesehatan juga menganggu kenyamanan individu, apalagi jika individu tersebut dituntut untuk duduk diam dan pekerjaannya membutuhkan konsentrasi lebih.

Pernyataan ini didukung oleh pendapat dari Holahan (1982) bahwa suhu dan polusi udara dapat menyebabkan sedikitnya dua efek kesehatan dan perilaku. Penelitian menunjukan bahwa tingkat mortalitas meningkat saat musim panas tiba.

Pencahayaan dan Warna

Pencahayaan dan warna secara langsung dapat mempengaruhi kinerja visual seseorang. Hal ini didukung oleh teori dari Corwin Bennet (dalam Holahan, 1981) bahwa penerangan yang lebih kuat ternyata mempengaruhi kinerja visual kita menjadi semakin cepat dan teliti. Namun cahaya yang berlebih juga dapat menganggu. Hal ini dapat dibuktikan dengan respon tubuh (menutup mata) saat melihat cahaya yang terang.

Sedangkan warna juga memiliki kesamaan dengan cahaya. Jika proporsi nya pas dengan fungsi dari ruangan akan menimbulkan rasa nyaman. Namun jika tidak dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada individu di dalam ruangan tersebut. Warna yang terlalu terang dapat menyebabkan kelelahan pada mata.

Warna menurut Heimstra dan Mc Farling, warna dibagi menjadi 3: kecerahan, corak warna, kejenuhan. Kecerahan berhubungan dengan intensitas warna, corak berhubungan dnegan warna yang melekat pada objek, sedangkan kejenuhan berkaitan dengan percampuran warna

Warna menurut WHO juga memiliki efek-efek psikologis tersendiri terhadap individu. Contohnya saja warna biru yang memiliki efek menenangkan, hijau yang disebut memiliki efek yang sangat sejuk begitupun warna-warna lain yang memiliki efek-efeknya masing-masing.

B. Architectural Features

Dalam Architectural yang lebih dibahas adalah tata perabot, dan hal-hal lain yang telah ada pada suatu ruangan seperti dinding dan lainnyadalam suatu ruangan.

Perabot

Perabot juga turut memberi kontribusi bagaimana seseorang dapat mempresepsi suatu ruangan. Asumsinya, bagaimana kita dapat bekerja di ruangan yang memiliki perabot dengan tata letak acak-acakan dan berkesan sembarangan. Hal tersebut secara langsung mengganggu penglihatan yang berpengaruh pada mood kerja individu. Namun ada beberapa konteks yang tidak dapat dipindahkan seperti latak dinding maupun pintu.

Daftar Pustaka:

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab3-ambient_condititon_dan_architectural_features.pdf

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: